2 METODE PEMBERIAN KHOTBAH

Published by sammaditthi.org on

2 METODE PEMBERIAN KHOTBAH

Dalam Saddhammapakāsinī Paṭisambhidāmagga, ada 2 metode pemberian khotbah oleh Sang Buddha yang dapat kita jadikan acuan untuk melakukan dhammadesana.
1. Puggaladiṭṭhanā, memberikan khotbah dengan mempergunakan contoh orang. Untuk menggambarkan suatu cara memberikan khotbah, bila kita menggunakan suatu contoh dalam memberikan khotbah, seperti bahwa seseorang yang dikaruniai dengan keyakinan, usaha, kesadaran, meditasi, dan kebijaksanaan pasti akan mencapai suatu hasil yang tertentu. Maka cara ini disebut suatu metode memberikan khotbah dengan mempergunakan orang-orang sebagai contoh atau Puggaladitthana. Misalnya kisah Khema Theri. Khema adalah salah satu dari dua pemimpin murid wanita Buddha (yang lainnya adalah Uppalavana). Nama Khema berarti berpenampilan menawan dan ia sangat cantik. Ia tidak ingin bertemu dengan Buddha karena ia tahu bahwa Buddha tidak terlalu perduli dengan kecantikan, dan ia sangat percaya diri akan kecantikannya. Khema mendengar cerita mengenai Sang Buddha melalui suaminya yang mendorongnya untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha. Raja mengerti akan sikapnya terhadap Sang Buddha, ia juga tahu betapa sombongnya ratu akan kecantikannya. Raja kemudian memerintahkan grup musiknya untuk menyanyikan lagu pujian tentang Vihara Veluvana, mengenai tempatnya yang menyenangkan dan suasananya yang damai, dan sebagainya. Mendengar hal itu, Ratu Khema menjadi tertarik dan memutuskan untuk mengunjungi Vihara Veluvana.

Ketika Ratu Khema tiba di Vihara, Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma kepada para pendengar. Dengan kemampuan batin luar biasa, Sang Buddha membuat penampakan seorang gadis muda yang sangat cantik muncul, duduk tidak jauh dari-nya dan sedang mengipasi Sang Buddha. Ketika Ratu Khema datang di ruang pertemuan, kecantikannya jauh lebih rendah dibandingkan dengan gadis tersebut. Ratu memperhatikan dengan saksama gadis tersebut, tiba-tiba kecantikan gadis itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Akhirnya Ratu melihat seorang wanita tua jompo, yang kemudian berubah menjadi mayat, tubuhnya yang berbau busuk diserang belatung. Segera pada saat itu, Ratu Khema menyadari ketidak kekalan dan ketidak berhargaan kecantikannya. itu, Ratu Khema menyadari ketidak kekalan dan ketidak berhargaan kecantikannya.

Sang Buddha mengetahui keadaan pikiran Ratu Khema, kemudian Dia berkata:
 “O Khema ! Lihatlah baik-baik pada tubuh lapuk ini yang terbalut di sekitar kerangka tulang, dan merupakan sasaran penyakit dan kelapukan. Lihatlah baik-baik tubuh ini yang dihargai sedemikian tinggi oleh orang bodoh. Lihatlah pada ketidakberhargaan kecantikan gadis muda ini”

Setelah mendengarkan hal itu, Ratu Khema mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan), seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri. Tapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan, serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Ratu Khema mencapai tingkat kesucian Arahat dan diterima dalam pasamuan Bhikkhuni serta menjadi ‘murid utama wanita’ Sang Buddha.
2. Memberikan khotbah tanpa mempergunakan contoh orang, tetapi berdasarkan atas fenomena tanpa pribadi (Dhammaditthana) menunjukkan bahwa keyakinan, usaha, kesadaran, meditasi dan kebijaksanaan menghasilkan suatu akibat tertentu, maka cara ini disebut suatu metode memberikan khotbah tanpa mempergunakan contoh orang atau Dhammaditthana. Misalnya padi berasal dari tumbuhnya benih padi, manisnya gula berasal dari batang tebu atau madu, adanya keistimewaan dari pada berbagai jenis buah-buahan, hukum genetika/penurunan sifat dan sebagainya. Semua aspek Biologis makhluk hidup diatur oleh hukum Bija Niyama.
Bija berarti “benih” di mana tumbuhan tumbuh dan berkembang darinya dalam berbagai bentuk. Dari pandangan filosofi, hukum pembenihan hanyalah bentuk lain dari hukum energi. Dengan demikian pengatur perkembangan dan pertumbuhan dunia tumbuhan merupakan hukum energi yang cenderung mewujudkan kehidupan tumbuhan dan disebut Bija-niyama. Hukum pembenihan menentukan kecambah, tunas, batang, cabang, ranting, daun, bunga, dan buah di mana dapat tumbuh. Dengan demikian, biji jambu tidak akan berhenti menghasilkan keturunan spesies jambu yang sama. Hal ini juga berlaku untuk semua jenis tumbuhan lainnya dan tidak ada sosok pencipta yang mengaturnya.
Inilah dua metode pemberian khotbah, Sang Buddha telah menggunakan metode ini dan memberikan khotbahnya kepada kita dengan penuh cinta kasih.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *